Bussiness Economies


 

Materi 7 : Macroeconomic Objectives and Indicators

Yang saya tangkap dari materi tersebut adalah, tujuan pertama di sini adalah Makroekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari bagaimana perekonomian secara keseluruhan bekerja, termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, dan keseimbangan neraca pembayaran. Tujuan-tujuan ini sangat penting karena memengaruhi kesejahteraan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan pertumbuhan jangka panjang suatu negara. Di bawah ini adalah empat tujuan utama dalam makroekonomi dan indikator yang digunakan untuk mengukurnya.

1.      Pertumbuhan Ekonomi

Tujuan dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kapasitas suatu negara dalam memproduksi barang dan jasa dalam jangka panjang. Pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan akan membawa manfaat berupa peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan standar hidup. Negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Kemudian Indikator pengukuran pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) Riil, yaitu nilai total semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu, setelah disesuaikan dengan inflasi. Selain itu, PDB Riil per Kapita juga sering digunakan, yang merupakan pembagian dari PDB Riil dengan jumlah penduduk. PDB Riil per Kapita menunjukkan seberapa besar rata-rata pendapatan setiap orang di suatu negara, memberikan gambaran lebih jelas tentang kemakmuran masyarakat.

2.      Mengurangi Pengangguran

Tujuan dari tingkat pengangguran yang tinggi menjadi masalah serius bagi perekonomian karena mencerminkan banyaknya tenaga kerja yang tidak produktif dan tidak berkontribusi pada perekonomian. Mengurangi pengangguran adalah salah satu tujuan utama pemerintah karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencegah masalah sosial yang terkait dengan pengangguran, seperti kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Indikator pengukuran pengangguran dapat diukur melalui Jumlah Klaim Pengangguran dan Survei Tenaga Kerja. Klaim pengangguran adalah jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran, sedangkan survei tenaga kerja mencakup data tentang jumlah orang yang bekerja, pengangguran terbuka, dan tenaga kerja yang tidak aktif. Melalui survei tenaga kerja, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih luas tentang kondisi pasar tenaga kerja dan membuat kebijakan yang sesuai.

3.      Stabilitas Harga

Tujuan stabilitas harga atau inflasi yang terkendali penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga barang dan jasa naik secara signifikan (inflasi), nilai uang masyarakat menurun sehingga mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa. Di sisi lain, deflasi atau penurunan harga yang berkelanjutan juga bisa merugikan karena dapat menyebabkan penundaan konsumsi dan investasi. Karena itu, menjaga stabilitas harga adalah salah satu prioritas utama kebijakan ekonomi.

Indikator pengukuran Stabilitas harga diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Ritel (RPI). CPI mengukur perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga, sedangkan RPI mencakup berbagai item tambahan seperti pajak dan biaya perumahan. Keduanya memberikan gambaran tentang tingkat inflasi, yang memungkinkan pemerintah dan bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan moneter guna menjaga stabilitas harga.

4.      Keseimbangan Neraca Pembayaran

Tujuan Keseimbangan neraca pembayaran yang stabil adalah salah satu indikator kesehatan ekonomi suatu negara. Neraca pembayaran adalah catatan dari semua transaksi ekonomi antara penduduk suatu negara dengan negara lain, termasuk transaksi perdagangan (impor dan ekspor) dan aliran modal. Ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran dapat menyebabkan krisis ekonomi, terutama jika negara bergantung pada pinjaman luar negeri untuk membiayai defisit perdagangan.

Indikator pengukuran keseimbangan neraca pembayaran dapat dilihat dari Pembayaran untuk Impor dan Ekspor, serta Aliran Keuangan Lainnya seperti investasi asing dan aliran modal. Ketika ekspor lebih besar dari impor, ini disebut surplus perdagangan dan dapat menambah cadangan devisa negara. Namun, jika impor lebih besar dari ekspor (defisit), negara harus mencari cara untuk membiayai kekurangan tersebut, seperti menarik investasi asing atau meminjam dana dari luar negeri. Keseimbangan dalam neraca pembayaran menunjukkan kestabilan ekonomi dan kemampuan suatu negara untuk bertahan dari guncangan ekonomi global.

Jadi kesimpulannya Tujuan makroekonomi bertujuan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan berkelanjutan, di mana masyarakat dapat hidup dengan sejahtera dan aman secara ekonomi. Dengan memantau indikator-indikator seperti PDB, tingkat pengangguran, indeks harga, dan neraca pembayaran, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang tepat untuk mencapai keseimbangan dalam perekonomian dan mengatasi masalah-masalah yang muncul.

 

 

 

Materi ke 8 : Economic growth

            Jadi, pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan kapasitas suatu negara dalam memproduksi barang dan jasa dari waktu ke waktu. Indikator yang sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah PDB Riil (Produk Domestik Bruto Riil), yang menunjukkan persentase peningkatan nilai produksi dalam ekonomi setelah disesuaikan dengan inflasi.

1.      Pertumbuhan Ekonomi Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui peningkatan Permintaan Agregat (AD) atau Penawaran Agregat Jangka Pendek (SRAS). Permintaan agregat mencakup elemen-elemen seperti konsumsi (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), serta ekspor dikurangi impor (X-M). Ketika salah satu komponen ini meningkat, maka permintaan dalam ekonomi akan meningkat, mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pertumbuhan jangka pendek juga bisa terjadi ketika biaya produksi menurun, yang akan meningkatkan SRAS. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, perusahaan bisa memproduksi lebih banyak barang dan jasa, sehingga ekonomi mengalami pertumbuhan.

2.      Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Di sisi lain, pertumbuhan jangka panjang lebih berfokus pada peningkatan kapasitas produksi dalam skala besar. Hal ini dicapai melalui peningkatan Penawaran Agregat Jangka Panjang (LRAS). LRAS bisa meningkat jika ada peningkatan dalam jumlah atau kualitas faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja yang lebih terampil, modal yang lebih canggih, atau teknologi yang lebih maju. Peningkatan dalam faktor-faktor produksi ini memungkinkan ekonomi menghasilkan lebih banyak barang dan jasa dalam jangka panjang.

Kemudian Diagran Kurva, Diagram yang ditampilkan menunjukkan bagaimana pertumbuhan jangka panjang bisa memindahkan kurva ke arah luar. Kurva tersebut menggambarkan perbandingan antara barang modal (capital goods) dan barang konsumsi (consumer goods), yang mana pergeseran kurva ke luar menandakan adanya peningkatan dalam kapasitas produksi ekonomi.

 

Siklus Ekonomi

            Siklus ekonomi menggambarkan pola perubahan PDB (Produk Domestik Bruto) dari waktu ke waktu. Perubahan ini biasanya berfluktuasi antara puncak (peaks) dan lembah (troughs) yang menunjukkan siklus naik turunnya aktivitas ekonomi.

Pertumbuhan Aktual (Jangka pendek)

            Dalam jangka pendek, pertumbuhan aktual (actual growth) biasanya mengalami fluktuasi yang teratur karena adanya faktor-faktor seperti ekspektasi masyarakat, efek akselerator, dan efek pengganda (multiplier). Ekspektasi memainkan peran penting karena memengaruhi keputusan investasi dan konsumsi yang dapat mempercepat atau memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan Tren (Jangka Panjang)

Pertumbuhan tren (trend growth), di sisi lain, menggambarkan jalur pertumbuhan yang lebih linier dan stabil. Pertumbuhan ini mencerminkan kapasitas dasar dari ekonomi untuk tumbuh dalam jangka panjang, tanpa dipengaruhi oleh fluktuasi jangka pendek.

Output Gap

Dalam analisis siklus ekonomi, konsep output gap atau kesenjangan output menjadi penting.

·         Positive output gap terjadi ketika output aktual lebih tinggi dari output potensial. Hal ini sering kali menunjukkan aktivitas ekonomi yang sedang memuncak.

·         Negative output gap, sebaliknya, terjadi ketika output aktual lebih rendah dari output potensial, menandakan ekonomi berada di bawah kapasitasnya, biasanya pada masa resesi atau kontraksi.

Diagram yang ditampilkan menggambarkan bagaimana pertumbuhan aktual sering kali berfluktuasi di atas dan di bawah tren pertumbuhan, yang menandakan adanya siklus ekonomi dalam jangka waktu tertentu.

Siklus ekonomi memiliki 4 fase utama yang saling berkaitan. Setelah mempelajari materinya, saya memahami karakteristik masing-masing fase sebagai berikut:

1.      Fase Boom (Ekspansi)

·         PDB tumbuh dengan sangat cepat

·         Tingkat konsumsi dan investasi tinggi

·         Pengangguran menurun

·         Inflasi cenderung naik

·         Ini fase puncak dari aktivitas ekonomi

2.      Fase Slowdown (Perlambatan)

·         Pertumbuhan PDB mulai melambat

·         Konsumsi dan investasi berkurang

·         Pengangguran mulai sedikit meningkat

·         Inflasi juga ikut melambat

·         Merupakan fase transisi menuju resesi

3.      Fase Recession (Resesi)

·         Pertumbuhan PDB negatif

·         Konsumsi dan investasi anjlok

·         Pengangguran meningkat tajam

·         Inflasi rendah bahkan bisa negatif (deflasi)

·         Ini adalah fase terburuk dalam siklus

4.      Fase Recovery (Pemulihan)

·         PDB mulai tumbuh positif kembali

·         Konsumsi dan investasi mulai meningkat

·         Pengangguran mulai turun perlahan

·         Inflasi mulai naik dari level rendah

·         Fase ini menandai mulainya perbaikan ekonomi

Dari materi ini saya belajar bahwa ekonomi bergerak dalam siklus yang dapat diprediksi polanya. Pemahaman akan fase-fase ini penting untuk mengantisipasi kondisi ekonomi ke depan.

 

 

 

0 Komentar